Jumat, 07 Februari 2014

Mengenal sosok Dewi Drupadi

Dewi Drupadi

Mengenal sosok Dewi Drupadi


Dalam kitab Mahabharata versus India serta dalam kebiasaan pewayangan di Bali, Dewi Dropadi bersuamikan lima orang, yakni Panca Pandawa. Pernikahan itu berlangsung sesudah beberapa Pandawa berkunjung ke Kerajaan Panchala serta ikut sayembara yang diadakan disana. Sayembara itu diikuti oleh beberapa kesatria terpenting di semua penjuru daratan Bharatawarsha (India Kuno), seperti umpamanya Karna serta Salya. Beberapa Pandawa berkumpul berbarengan beberapa kesatria lain di arena, tetapi mereka tidak mengenakan pakaian semestinya seorang kesatria, tetapi menyamar dengan menggunakan pakaian untuk brahmana. Di tengah-tengah arena diletakkan titik sasaran yang akan dipanah. Mereka yang tepat sasarannya akan dapat memboyong Dewi Drupadi sebagai istri.

Beberapa peserta juga berusaha untuk memanah tujuan di arena, tetapi satu per satu tidak berhasil. Karna sukses mengerjakannya, tetapi Dropadi menampiknya dengan argumen bahwasanya ia tidak ingin menikah dengan putera seseorang kusir. Karna juga kecewa serta perasaannya benar-benar kesal. Sesudah Karna tidak diterima, Arjuna maju ke muka serta mencoba memanah tepat pada sasaran. Panah yang dilepaskannya ternyata memang tepat mengenai sasaran. Dengan demikian Arjuna berhak memboyong Drupadi sebagai istri.  Tetapi beberapa peserta yang lain menggerutu lantaran seorang brahmana kok ya ikut-ikutan sayembara sedang beberapa peserta mau supaya sayembara itu cuma diikuti oleh kelompok kesatria. Lantaran ada keluhan itu maka keributan tidak bisa dihindari lagi. Arjuna serta Bima bertarung dengan kesatria yang melawannya sedang Yudistira, Nakula, serta Sadewa pulang melindungi Dewi Kunti, ibu mereka. Kresna yang ikut  dalam sayembara itu tahu siapa sesungguhnya beberapa brahmana yang sudah memperoleh Dropadi serta ia berkata pada beberapa peserta bahwasanya telah semestinya beberapa brahmana itu memperoleh Dropadi karena mereka sudah sukses memenangkan sayembara dengan baik.

Sesudah keributan selesai, Arjuna serta Bima pulang ke tempat tinggalnya dengan membawa  Dewi Dropadi. Sesampainya dirumah didapatinya ibu mereka tengah tidur berselimut sembari berpikir tentang situasi kedua anaknya yang tengah bertarung di arena sayembara. Arjuna serta Bima datang menghadap serta menyampaikan bahwasanya mereka telah pulang dan membawa hasil meminta-minta. Dewi Kunti menyuruh supaya mereka membagi rata apa yang mereka dapatkan. Tetapi Dewi Kunti terperanjat saat tahu bahwasanya putera-puteranya bukan sekedar membawa hasil meminta-minta saja, tetapi juga seseorang wanita. Dewi Kunti tidak ingin berdusta maka Dropadi juga jadi istri Panca Pandawa.

Dalam kitab Mahabharata versus aslinya, serta dalam kebiasaan pewayangan di Bali, suami Dropadi sejumlah lima orang yang dimaksud adalah lima Pandawa. Dari hasil hubungan dengan ke lima Pandawa ia mempunyai lima putera, yaitu :

Pratiwinda (dari hubungan dengan Yudistira)
Sutasoma (dari hubungan dengan Bima)
Srutakirti (dari hubungan dengan Arjuna)
Satanika (dari hubungan dengan Nakula)
Srutakama (dari hubungan dengan Sadewa)

Ke lima putera Pandawa itu dimaksud Pancawala atau mungkin Pancakumara.

Dewi Drupadi versus Wayang Jawa

Dalam budaya pewayangan Jawa, terutama sesudah memperoleh dampak Islam, Dewi Dropadi dikisahkan agak tidak sama dengan cerita dalam kitab Mahabharata versus aslinya. Dalam narasi pewayangan, Dewi Dropadi dinikahi oleh Yudistira saja . Narasi itu bisa dikaji dalam lakon Sayembara Gandamana. Dalam lakon itu diceritakan, Yudistira mengikuti sayembara menaklukkan Gandamana yang diadakan Raja Dropada. Siapa yang sukses memenangkan sayembara, memiliki hak mempunyai Dropadi. Yudistira turut serta tetapi ia tak terjun ke arena sendirian tetapi diwakili oleh Bima. Bima sukses menaklukkan Gandamana serta pada akhirnya Dropadi sukses diperoleh. Lantaran Bima mewakili Yudistira, maka Yudistiralah sebagai suami Dropadi. Dalam kebiasaan pewayangan Jawa, putera Dropadi dengan Yudistira bernama Raden Pancawala. Pancawala sendiri adalah sebutan untuk lima putera Pandawa.

Terjadinya perbedaan narasi pada kitab Mahabharata dengan narasi dalam pewayangan Jawa lantaran dampak perubahan agama Islam di tanah Jawa. Sesudah kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu roboh, munculah Kerajaan Demak yang bercorak Islam. Pada saat itu, semua  hal mesti sesuai dengan hukum agama Islam. Pertunjukan wayang yang pada waktu itu benar-benar disukai oleh orang-orang, tak diberantas maupun dilarang tetapi sesuai dengan ajaran Islam. Menurut hukum Islam, seseorang wanita tak bisa mempunyai suami  lebih satu. Oleh karena itu, narasi Dewi Dropadi dalam kitab Mahabharata versus asli yang bercorak Hindu menyalahi hukum Islam. Untuk mengantisipasinya, beberapa pujangga maupun seniman Islam merubah narasi itu supaya sesuai  dengan ajaran Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar